Arafah adalah sebuah kawasan luas yang terletak sekitar 20–25 kilometer di sebelah tenggara Kota Makkah. Tempat ini menjadi lokasi pelaksanaan wukuf, yaitu puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Setiap tanggal 9 Zulhijah, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di Padang Arafah sejak tergelincirnya matahari (waktu Zuhur) hingga terbit fajar pada tanggal 10 Zulhijah. Momen ini merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam ibadah haji sekaligus menjadi waktu yang sangat istimewa untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT.
Arafah memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena wukuf di Arafah merupakan rukun haji. Artinya, siapa pun yang tidak melaksanakan wukuf pada waktu yang telah ditentukan, maka ibadah hajinya tidak sah, meskipun seluruh rangkaian ibadah lainnya telah dilakukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Al-hajju ‘Arafah.”
Artinya:
“Haji itu adalah Arafah.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Hadis yang singkat ini menunjukkan betapa pentingnya wukuf di Arafah hingga menjadi inti dari ibadah haji.
Secara bahasa, wukuf berarti berhenti atau berdiam.
Dalam istilah fikih, wukuf adalah kehadiran seorang jemaah haji di kawasan Arafah pada waktu yang telah ditentukan, disertai niat untuk melaksanakan ibadah haji.
Wukuf tidak harus dilakukan dengan berdiri. Jemaah dapat:
Yang terpenting adalah berada di wilayah Arafah pada waktu wukuf.
Waktu wukuf dimulai sejak:
Mayoritas jemaah melaksanakan wukuf sejak siang hingga matahari terbenam, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah setelah Magrib.
Hari Arafah merupakan salah satu hari paling mulia dalam Islam. Oleh karena itu, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah, antara lain:
Hari ini merupakan kesempatan terbaik untuk memperbanyak doa karena termasuk waktu yang sangat mustajab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
(HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa Hari Arafah merupakan salah satu waktu terbaik untuk memohon segala kebaikan kepada Allah SWT.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa pada Hari Arafah Allah SWT membanggakan hamba-hamba-Nya yang sedang wukuf di hadapan para malaikat dan memberikan ampunan kepada mereka.
Di kawasan Arafah terdapat sebuah bukit kecil yang sangat terkenal bernama Jabal Rahmah atau Bukit Kasih Sayang.
Di masyarakat berkembang kisah bahwa Nabi Adam AS dan Siti Hawa dipertemukan kembali di tempat ini setelah diturunkan ke bumi. Kisah tersebut banyak diceritakan dalam literatur sejarah Islam, namun tidak terdapat hadis sahih yang secara tegas menetapkan lokasi pertemuan tersebut berada di Jabal Rahmah.
Karena itu, para ulama mengingatkan agar Jabal Rahmah tidak dianggap sebagai tempat yang memiliki ibadah khusus. Tidak ada tuntunan dari Rasulullah ﷺ untuk naik ke bukit tersebut, mengusap batu-batunya, atau melakukan ritual tertentu di sana.
Mengunjungi Jabal Rahmah diperbolehkan sebagai bagian dari mengenal sejarah, tetapi bukan merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji.
Padang Arafah memiliki luas sekitar 12 kilometer persegi dan telah dikembangkan oleh Pemerintah Arab Saudi menjadi kawasan yang mampu menampung jutaan jemaah.
Berbagai fasilitas telah disediakan, antara lain:
Fasilitas-fasilitas tersebut terus dikembangkan untuk meningkatkan kenyamanan serta keselamatan jemaah selama pelaksanaan wukuf.
Wukuf mengajarkan banyak nilai kehidupan, di antaranya:
Arafah merupakan tempat paling penting dalam rangkaian ibadah haji karena di sinilah dilaksanakan wukuf, salah satu rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji seseorang. Setiap tanggal 9 Zulhijah, jutaan jemaah berkumpul di Padang Arafah untuk memperbanyak doa, zikir, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.