“Saya ingin daftar haji, tapi kenapa masa tunggunya bisa sampai puluhan tahun?”
Pertanyaan ini sering muncul dari calon jemaah yang baru mulai mencari informasi tentang haji. Tidak sedikit yang terkejut ketika mengetahui bahwa seseorang yang mendaftar hari ini mungkin baru berangkat puluhan tahun lagi.
Padahal, penyebabnya sebenarnya cukup sederhana.
Jumlah orang yang ingin berangkat haji jauh lebih banyak dibandingkan kuota yang tersedia setiap tahun.
Saat seseorang mendaftar haji dan melakukan setoran awal, ia akan mendapatkan nomor porsi haji. Nomor porsi inilah yang menentukan urutan keberangkatan.
Ibarat mengambil nomor antrean di sebuah layanan, siapa yang lebih dulu mendaftar akan mendapatkan posisi lebih depan.
Karena itu, dalam perencanaan haji ada satu prinsip yang sangat penting:
Semakin cepat mendapatkan nomor porsi, semakin cepat pula kesempatan untuk berangkat.
AD PLACEMENT
Lantas, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah:
Di beberapa tahun terakhir, Indonesia mendapatkan kuota haji sekitar 221.000 jemaah. Kuota tersebut dibagi menjadi dua kategori utama:
Sekitar 92% dari total kuota
± 203.320 jemaah per tahun
Sekitar 8% dari total kuota
± 17.680 jemaah per tahun
Di atas kertas angka tersebut terlihat besar. Namun jika dibandingkan dengan jumlah pendaftar yang sudah masuk daftar tunggu, kuota tersebut ternyata masih jauh dari kata cukup.
Saat ini jumlah pendaftar haji reguler yang menunggu keberangkatan diperkirakan mencapai sekitar 5,69 juta orang.
Sementara kuota keberangkatan yang tersedia setiap tahun sekitar 203 ribu jemaah.
Jika dihitung secara sederhana, dibutuhkan sekitar 28 tahun untuk melayani seluruh antrean tersebut.
Untuk haji khusus, jumlah pendaftarnya sekitar 164 ribu orang, dengan kuota sekitar 16 ribu jemaah per tahun.
Hasilnya, estimasi antrean berada di kisaran 10 tahun.
Itulah mengapa masa tunggu haji di Indonesia bisa terasa sangat panjang.
Meskipun demikian, estimasi masa tunggu haji dapat berubah dari waktu ke waktu. Calon jemaah yang pada tahun 2026 diperkirakan memiliki masa tunggu 20 tahun, bisa saja pada tahun 2028 mendapati estimasi keberangkatannya menjadi 18 tahun atau bahkan berbeda dari perkiraan sebelumnya.
Perubahan ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti penambahan atau pengurangan kuota haji oleh Pemerintah Arab Saudi, kebijakan pemerintah Indonesia, adanya jemaah yang membatalkan keberangkatan, dan beberapa aspek lain.
Oleh karena itu, masa tunggu yang tercantum saat pendaftaran sebaiknya dipahami sebagai estimasi, bukan kepastian. Calon jemaah tetap perlu memantau informasi terbaru dari Kementerian Agama dan menyiapkan rencana keberangkatan secara matang.
Meskipun estimasi masa tunggu dapat berubah, ada satu hal yang tetap sama: posisi antrean hanya bisa diperoleh setelah seseorang memiliki nomor porsi haji.
Inilah alasan mengapa banyak perencana keuangan dan konsultan haji menyarankan agar perencanaan haji dimulai sedini mungkin.
Fakta ini menunjukkan bahwa perencanaan haji sebaiknya tidak menunggu sampai seseorang merasa siap berangkat.
Dalam banyak kasus, justru nomor porsi perlu diamankan terlebih dahulu, sementara persiapan biaya, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya dapat direncanakan secara bertahap selama masa tunggu berlangsung.
Semakin cepat seseorang mendapatkan nomor porsi, semakin besar peluang untuk berangkat pada usia yang masih produktif dan dalam kondisi kesehatan yang lebih baik.
Misalnya:
Sebagai ilustrasi, seseorang yang mendaftar haji reguler pada usia 30 tahun dengan estimasi masa tunggu 30 tahun kemungkinan baru berangkat pada usia sekitar 60 tahun.
Jika pendaftaran ditunda 10 tahun, maka keberangkatannya bisa bergeser menjadi usia 70 tahun atau lebih.
Pada akhirnya, masa tunggu haji bukanlah alasan untuk menunda perencanaan.
Justru karena masa tunggunya panjang, perencanaan haji perlu dimulai sedini mungkin.
Sebab biaya haji masih dapat direncanakan dan dipersiapkan secara bertahap. Namun waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.
Karena itu, dalam perencanaan haji, langkah pertama yang sering kali paling menentukan bukanlah menunggu siap, melainkan memulai lebih awal.